Detail Informasi Pelatihan

3 August 2026
08:00
Hotel Syafira Langgur - Kabupaten Maluku Tenggara
Stroke adalah penyebab utama disabilitas dan kematian di dunia. Selama beberapa dekade
terakhir, prevalensi stroke di Indonesia telah meningkat seiring pertambahan umur rata-rata populasi serta perubahan gaya hidup yang meningkatkan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, dan merokok. Data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) tahun 2021 menunjukkan stroke
sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi stroke di Indonesia meningkat sebanyak 56% dari 7 per 1000 penduduk pada tahun 2013, menjadi 10,9 per 1000 penduduk pada tahun 2018. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia 2023, stroke menjadi penyakit tidak menular
penyebab 20,2% disabilitas di Indonesia. Berdasarkan data JKN, kasus stroke meningkat dari 2,54 juta kasus pada tahun 2022 menjadi 3,4 juta kasus pada tahun 2023. Data BPJS Kesehatan menunjukkan beban pembiayaan untuk penyakit stroke mencapai
3,23 triliun rupiah pada tahun 2022, meningkat 69,1% dibanding tahun 2021 dengan beban pembiayaan sebesar 1,91 triliun rupiah. Beban pembiayaan stroke meningkat menjadi 5,2 triliun rupiah pada tahun 2023 dan merupakan jumlah pembiayaan penyakit katastropik tertinggi ketiga, setelah penyakit jantung dan kanker. Tingginya angka kesakitan, disabilitas, dan kematian akibat stroke menjadi tantangan dalam
pembangunan kesehatan, karena berdampak pada menurunnya produktivitas penduduk Indonesia. Disabilitas yang menetap atau risiko serangan stroke berulang mengakibatkan biaya pemeliharaan kesehatan yang besar serta memberikan beban psikologis dan sosial. Beberapa penelitian yang dilakukan di negara berkembang, menitikberatkan pada upaya
pencegahan stroke pada pengendalian perilaku yang berisiko (seperti diet, aktifitas fisik, obesitas) dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan stroke, melakukan skrining terhadap masyarakat berisiko tinggi dan manajemen pengobatan arteriosklerosis yang dapat menurunkan risiko sebesar 80% dengan upaya pengendalian faktor risiko stroke pada individu dan menurunkan kejadian stroke sebesar 50% (Pemila, 2020). Selain permasalahan faktor risiko, pengenalan stroke sendiri belum diketahui masyarakat
secara menyeluruh. Hal ini terlihat dari rendahnya pengetahuan masyarakat tentang gejala awal stroke, sehingga terjadi keterlambatan membawa pasien ke fasyankes pada saat serangan akut yang berakibat pada terlambatnya penanganan yang tepat dan adekuat.